Connect with us

Seniman Muda Asal Tangsel Menuai Pujian Saat Pamerkan Karya Seni Di Jogja

Seni Budaya

Seniman Muda Asal Tangsel Menuai Pujian Saat Pamerkan Karya Seni Di Jogja

Anugrah Fadly Kreatoseniman, seorang anak muda asal Kota Tangerang Selatan (Tangsel) yang menekuni profesi sebagai seniman rupa di Yogyakarta.

Pemuda alumni SMKN 3 Tangsel tersebut memiliki nama julukan Uga. Anugrah atau Uga putra dari Samodro pengurus Dewan Kesenian Tangsel, mendapatkan pujian dari berbagai pakar seni lukis Indonesia.

Ia juga sempat menyelesaikan sekolah di SMKN 3 Tangsel dengan mengambil jurusan animasi. Namun, setelah lulus pada tahun 2017, Uga hijrah ke Yogyakarta untuk melanjutkan kuliahnya di Institute Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta mengambil jurusan seni rupa patung.

Uga berpendapat, bahwa karya lukis lebih menantang ketimbang membuat patung.

“Saya lebih banyak berekspresi seni dengan melukis dari pada membuat karya patung, karena proses membuat patung memerlukan energi dan biaya yang lebih banyak” ujarnya.

Masih menurut Uga, anak muda yang memilih profesi sebagai seniman murni (pelukis) karena profesi tersebut sedikit peminatnya, dibandingkan profesi desainer (desain grafis, game atau animator).

Uga yang kini telah memasuki semester akhir, berharap kuliahnya di kampus ISI lekas tamat dalam waktu dekat. kemudian ia akan kembali memamerkan karyanya di kancah nasional maupun Internasional.

“Insya Allah, tahun depan bisa selesai. Saya akan terjun dan terus menekuni seni rupa di Yogyakarta dengan skala nasional maupun internasional. Pameran tunggal yang pertama saya lakukan pada akhir tahun 2020 dengan judul pameran “Imagination Uga,” ucapnya.

Ia memaparkan, dirinya sangat terharu saat gurunya semasa dia masih bersekolah di SMKN 3 Tangsel, menyempatkan datang dari Tangsel ke Jogja untuk melihat pamerannya.

“Saya terharu dan bahagia. Pak Deny, Pak Surya (Wakasek SMKN 3 kota Tangsel) dan Pak Hamdani, tanpa diduga hadir saat pembukaan pameran di Royal House, Sleman Yogyakarta pada bulan Desember 2020 yang lalu. Itu sangat memotivasi saya untuk berkarya lebih bagus lagi,” tegas Anugrah.

Karya-karyanya yang cukup menginspirasi tersebut menuai pujian dari beberapa pakar seni dan kurator di Yogyakarta, disampaikan oleh Samodro orang tua Anugrah.

“Menurut Prof. Dwi Marianto, MFA.,Ph.D, karya Uga tidak menggunakan rasio atau lebih kepada performa rasa individualisme. Karya goresan Uga tersebut lebih imajinatif dengan gaya abstrak.

“Karya-karya Anugrah mengingatkan pada seniman-seniman fauvisme yang berkarya tidak menggunakan rasio, tetapi dengan membiarkan apa yang ada dalam dirinya keluar dengan tidak mengikuti alam. Mereka berkarya lebih banyak menggunakan feelingnya,” ungkap Samodro saat di konfirmasi melalui sambungan WhatsAppnya, Senin (1/11/2021).

Lebih lanjut, sampai kini karya Anugrah cukup memberi warna baru yang ditampilkan seniman muda di Yogyakarta.

Samodro menjelaskan, asperger sendiri merupakan suatu kondisi seseorang pada spektrum autisme. Berkarya dan melukis sejak kecil, ia dan anaknya Anugrah atau Uga menyebut, dengan seni rupa merupakan cara ia dalam menjalani proses therapy yang dilakukan sejak masa anak-anak.

“Dengan kegiatan melukis, Anugrah dapat mencapai perasaan Katarsis. Sehingga, emosinya dapat dikendalikan. Anugrah berkarya dengan cara-cara yang unik hingga sampai ia kuliah semester akhir di ISI Yogyakarta. Cara dia mengungkapkan ide dan visual memiliki ciri yang jarang ditemukan dalam karya-karya seniman lainnya,” jelasnya.

Selanjutnya, sampai kini Uga tinggal di wilayah Kasongan, Bantul, Yogyakarta dan membangun tempat berkarya yang disebut Studio Tanjakan 98.

“Saat liburan biasanya Anugrah pulang ke Tangerang Selatan dan berkesenian bersama teman-teman ayahnya di Dewan Kesenian Tangerang Selatan,” tandasnya.

Seniman Kukuh Nuswantoro asal Yogyakarta juga turut berkomentar, menurutnya karya Uga seperti karya seniman-seniman Eropa

Ini seperti karya seniman-seniman di Eropa, misalnya Andre Derain, Jackson Pollock atau Piet Mondriaan,” ungkapnya.

Di anggap “Aneh” Uga merupakan penyandang asperger yang memiliki cara yang berbeda dalam berkesenian.

Dr. Hadjar Pamadhi, MA. Hons, seorang dosen dan kurator di Jogja bahkan memberi komentar, bahwa karya Anugrah luar biasa dengan ide-ide dan warnanya.

Saya pernah melihat Uga berpameran yang disampaikan saat bincang bareng dan sosialisasi pameran virtual “Indonesia for Art Disability” pada tgl 31 Oktober 2021 melalui Zoom Meeting oleh LVKI’s di Yogyakarta beberapa waktu lalu,” terangnya. (Red/Eno/Adt).

Continue Reading
Advertisement
You may also like...
To Top